Kamis, 19 Agustus 2010

Sertifikasi Guru-guru hanyalah akal-akalan pemerintah untuk menutup-nutupi kekurangan dana dan menambah penderitaan guru

Re: Uji Sertifikasi

Masak sih?? Jangan dulu berprasangka buruk atuh... ? Hanya emang ada yang nganjal dari mekanisme sertifikasi, paling tidak tiga hal berikut ini mas yang mesti dibenahi :
1. Validitas calon : ini jangan dianggap remeh, soalnya dengan iming-iming bersangkut paut dengan kesejahteraan kesalahan calon sertifikan akan menimbulkan kecemburuan sosial.
2. Instrumen Sertifikasi : koq kayaknya terlalu administratif & memiliki resiko manipulasi yang tinggi --Mungkin bangsa kita senang dengan manipulasi ???--. Kenapa tidak diciptakan instrumen lain yang lebih ringkas. Misal pergunakan test kemampuan untuk uji kelayakan, pantau kinerja guru berdasarkan laporan pimpinan setingkat cek oleh lpm, baru deh beri tunjangan.... ini misal ...
3. Jadwal : Ini merupakan hal penting dan satu sisi yang dpt dijadikan tolok ukur keseriusan pemerintah. Kapan disertifikasi, oleh siapa, pengumumannya kapan lewat mana, kapan mendapat tunjangan, sertifikasi kedua dst..... Ada ndak jadwal kerjanya ya??? Mudah-mudahan ada jadi bukan kerjaan srampangan, seremonial, temporer dan asal-asalan.
mdh2 an membawa dampak positif bagi kemajuan pendidikan... AMiin

Re: Uji Sertifikasi

hahahahaha .... yang lucu lagi di satu tempat ssssst ..... ada yang memakai tolok ukur yaitu lama kerja bukan skor? wis wis arep dadi apa pendidikan nanti?

Re: Uji Sertifikasi

kita jangan berprasangka buruk dengan niat baik pemerintah, yang perlu kita prasangka adalah pelaksana di lapangan. guru dicetak oleh dosen, dinilai oleh dosen, sementara dalam hal berbeda guru bukan dosen (cara mengajar, persiapan mengajar, fasilitas, status, tunjangan dll, ada kesan guru menjadi biang rendahnya mutu pendidikan padahal yang mencetak calon guru adalah dosen atau perguruan tinggi. pernahkah dosen menjadi pembicaraan rendahnya mutu..

Re: Uji Sertifikasi

Kalau kenyataannya guru-guru hanya membuat portfolio yang mengada-ada, apa yang mau dicapai dari uji sertifikasi guru? Mereka rela meninggalkan kelas hanya demi mengumpulkan portfolio. Mengikuti banyak seminar tetapi tidak jelas hasilnya, hanya demi portfolio. Padahal guru yang kompeten adalah guru yang setia pada profesinya. Tidak meninggalkan anak didiknya untuk kepentingan pribadi. Kalau melihat tuntutan uji sertifikasi sekarang ini, guru-guru berlomba mengumpulkan portfolio sampai lupa pada tugas pokoknya yaitu mendidik. Menurut saya, kompetensi guru hanya bisa dilihat secara jelas melalui institusi sekolah masing-masing tempat di mana guru tersebut mengajar. Lalu, apa sebenarnya yang mau dicapai uji sertifikasi? Profesionalisme guru atau peningkatan mutu pendidikan? Bagaimana kriteria guru yang profesional, selalu meninggalkan kelas demi portfolio atau setia pada pekerjaannya mengajar di kelas, memantau perkembangan anak didiknya? Kalau guru dibebani terlalu banyak administrasi, maka tugas pokok mengajarnya akan terbengkalai. Semoga ini menjadi bahan pertimbangan.

Re: Uji Sertifikasi

Guru adalah jabatan profesi. pada dasarnya, semua guru pasti professional dalam bidangnya, yaitu mendidik dan mengajar. Maka tidak perlu lagi ada uji sertifikasi. Benarkan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar