Hasil penelitian menunjukkan bahwa 88 persen hidup manusia dikendalikan oleh pikiran bawah sadar, sisanya oleh pikiran sadar. Baik buruknya seseorang amat dipengaruhi alam bawah sadar mereka. Seorang penjahat atau koruptor, amat tahu dan sadar bila perbuatannya itu tidaklah benar, melanggar hukum dan merugikan orang lain. Tapi toh mereka masih juga melakukan.
Bila dikaji lebih jauh, pikiran bawah sadar tidak bisa memberikan gambaran atas kata sifat atau perintah. Ia hanya bisa mengimajinasikan kata benda atau kata kerja. Pada anak usia bawah lima tahun, saat diminta ‘jangan lari’, dia akan berlari. Pada orang dewasa pun, meski sudah ada perintah ‘jangan atau dilarang merokok’, tetap saja perintah ini tidak memberi hasil maksimal.
Hal ini mungkin terjadi mengingat pikiran bawah sadar dan imajinasinya tidak bisa menggambarkan kata ‘tidak’ atau ‘jangan’. Ketika mengatakan ‘jangan lari’ pada anak kecil, imajinasi yang tergambar malah orang yang sedang berlari, bukan orang berhenti berlari. Demikian juga pada larangan merokok, imajinasi yang muncul malah gambar rokoknya. Maka orang tetap saja merokok walau dilarang.
Pikiran bawah sadar lebih peka terhadap gambar, Gambar porno yang ada di ponsel para pelajar sekarang sangat mempengaruhi mereka. Maka terjadilah perilaku untuk mempraktikan. Jangan heran banyak beredar video pelajar di internet, banyak berita perkosaan, pelecehan seksual dan lainnya. Jika gambar iklan rokok dipasang cowok yang ganteng dan gagah, maka pikiran bawah sadar kita akan mengikutinya.
Maka sebaiknya bila larangan merokok diganti dengan gambar-gambar pasien rokok, iklan narkoba ditampilkan korban akibat narkoba, atau gambar korban kecelakaan akibat kebut-kebutan. Sebaiknya kita juga mencari kata-kata yang bersifat positif dan tegas dalam mendidik anak, misalnya jangan katakan kepada anak ‘jangan boros’, tetapi ‘berhematlah’, ‘jangan nakal’ tetapi ‘berbuat baiklah’, ‘jangan berdusta’ tetapi ‘jujurlah’.
Otak bawah sadar berfungsi sebagai pengendali kebiasaan dan tempat imajinasi. Ingat kasus anak memenggal temannya sendiri gara-gara seringnya menonton film “hakim Bao” yang menghukum dengan memenggal. Ingat pula smack down yang memakan korban anak usia SD, ingat juga seorang kakek yang tega memerkosa cucunya sendiri, atau seorang paman tega memerkosa keponakannya lantaran seringnya nonton film porno, Ingat kekerasan dikalangan pelajar, adanya Gang perempuan, aksi demo anarkis yang memicu aksi berikutnya untuk anarkis, hal ini sumbangsih dari referensi negatif yang telah membekas di memori.
Film/sinetron yang menampilkan perselingkuhan, hamil diluar nikah, aborsi, pacaran yang berlebihan, rebutan warisan, berorientasi uang dan sebagainya, hal ini telah mengganggu perkembangan kepribadian dan sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Semakin banyak masyarakat melihat gambar kekerasan semakin mudah juga orang melakukan kekerasan, lihat saja berita di TV atau koran sepertinya makin lama makin banyak kasus kekekasan, pembunuhan, perkosaan termasuk mistis.
Kesemuanya itu jika terus menerus masuk ke memori otak, maka lambat laun peristiwa itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan mungkin bisa jadi benar dan ingin menirunya, dalam hal ini yang bekerja adalah otak (pikiran) bawah sadar, bukan otak (pikiran) sadar, jika pikiran sadar yang bekerja, maka pelaku akan mempertimbangkan konsekuensi dari apa yang akan dan telah dilakukan.
Baik dan buruk, benar atau tidak itu hasil kerja dari pikiran sadar, sedangkan pikiran bawah sadar tidak mengenalnya. Tugas kita bersama untuk menjaga kemurnian kasadaran. Pastikan generasi penerus kita tumbuh tanpa mengenal referensi hidup yang negatif (kekerasan, korupsi, perkosaan, perselingkuhan dll), tetapi mereka mengenal referensi yang positif ( kasih sayang, rukun, kerjasama, saling menghormati, harmonis, humanis, disiplin, bertanggungjawab, prestasi dll).
Bila dikaji lebih jauh, pikiran bawah sadar tidak bisa memberikan gambaran atas kata sifat atau perintah. Ia hanya bisa mengimajinasikan kata benda atau kata kerja. Pada anak usia bawah lima tahun, saat diminta ‘jangan lari’, dia akan berlari. Pada orang dewasa pun, meski sudah ada perintah ‘jangan atau dilarang merokok’, tetap saja perintah ini tidak memberi hasil maksimal.
Hal ini mungkin terjadi mengingat pikiran bawah sadar dan imajinasinya tidak bisa menggambarkan kata ‘tidak’ atau ‘jangan’. Ketika mengatakan ‘jangan lari’ pada anak kecil, imajinasi yang tergambar malah orang yang sedang berlari, bukan orang berhenti berlari. Demikian juga pada larangan merokok, imajinasi yang muncul malah gambar rokoknya. Maka orang tetap saja merokok walau dilarang.
Pikiran bawah sadar lebih peka terhadap gambar, Gambar porno yang ada di ponsel para pelajar sekarang sangat mempengaruhi mereka. Maka terjadilah perilaku untuk mempraktikan. Jangan heran banyak beredar video pelajar di internet, banyak berita perkosaan, pelecehan seksual dan lainnya. Jika gambar iklan rokok dipasang cowok yang ganteng dan gagah, maka pikiran bawah sadar kita akan mengikutinya.
Maka sebaiknya bila larangan merokok diganti dengan gambar-gambar pasien rokok, iklan narkoba ditampilkan korban akibat narkoba, atau gambar korban kecelakaan akibat kebut-kebutan. Sebaiknya kita juga mencari kata-kata yang bersifat positif dan tegas dalam mendidik anak, misalnya jangan katakan kepada anak ‘jangan boros’, tetapi ‘berhematlah’, ‘jangan nakal’ tetapi ‘berbuat baiklah’, ‘jangan berdusta’ tetapi ‘jujurlah’.
Otak bawah sadar berfungsi sebagai pengendali kebiasaan dan tempat imajinasi. Ingat kasus anak memenggal temannya sendiri gara-gara seringnya menonton film “hakim Bao” yang menghukum dengan memenggal. Ingat pula smack down yang memakan korban anak usia SD, ingat juga seorang kakek yang tega memerkosa cucunya sendiri, atau seorang paman tega memerkosa keponakannya lantaran seringnya nonton film porno, Ingat kekerasan dikalangan pelajar, adanya Gang perempuan, aksi demo anarkis yang memicu aksi berikutnya untuk anarkis, hal ini sumbangsih dari referensi negatif yang telah membekas di memori.
Film/sinetron yang menampilkan perselingkuhan, hamil diluar nikah, aborsi, pacaran yang berlebihan, rebutan warisan, berorientasi uang dan sebagainya, hal ini telah mengganggu perkembangan kepribadian dan sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Semakin banyak masyarakat melihat gambar kekerasan semakin mudah juga orang melakukan kekerasan, lihat saja berita di TV atau koran sepertinya makin lama makin banyak kasus kekekasan, pembunuhan, perkosaan termasuk mistis.
Kesemuanya itu jika terus menerus masuk ke memori otak, maka lambat laun peristiwa itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan mungkin bisa jadi benar dan ingin menirunya, dalam hal ini yang bekerja adalah otak (pikiran) bawah sadar, bukan otak (pikiran) sadar, jika pikiran sadar yang bekerja, maka pelaku akan mempertimbangkan konsekuensi dari apa yang akan dan telah dilakukan.
Baik dan buruk, benar atau tidak itu hasil kerja dari pikiran sadar, sedangkan pikiran bawah sadar tidak mengenalnya. Tugas kita bersama untuk menjaga kemurnian kasadaran. Pastikan generasi penerus kita tumbuh tanpa mengenal referensi hidup yang negatif (kekerasan, korupsi, perkosaan, perselingkuhan dll), tetapi mereka mengenal referensi yang positif ( kasih sayang, rukun, kerjasama, saling menghormati, harmonis, humanis, disiplin, bertanggungjawab, prestasi dll).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar