Kamis, 19 Agustus 2010

Faktor Alam Bawah Sadar dalam Pendidikan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 88 persen hidup manusia dikendalikan oleh pikiran bawah sadar, sisanya oleh pikiran sadar. Baik buruknya seseorang amat dipengaruhi alam bawah sadar mereka. Seorang penjahat atau koruptor, amat tahu dan sadar bila perbuatannya itu tidaklah benar, melanggar hukum dan merugikan orang lain. Tapi toh mereka masih juga melakukan.
Bila dikaji lebih jauh, pikiran bawah sadar tidak bisa memberikan gambaran atas kata sifat atau perintah. Ia hanya bisa mengimajinasikan kata benda atau kata kerja. Pada anak usia bawah lima tahun, saat diminta ‘jangan lari’, dia akan berlari. Pada orang dewasa pun, meski sudah ada perintah ‘jangan atau dilarang merokok’, tetap saja perintah ini tidak memberi hasil maksimal.
Hal ini mungkin terjadi mengingat pikiran bawah sadar dan imajinasinya tidak bisa menggambarkan kata ‘tidak’ atau ‘jangan’. Ketika mengatakan ‘jangan lari’ pada anak kecil, imajinasi yang tergambar malah orang yang sedang berlari, bukan orang berhenti berlari. Demikian juga pada larangan merokok, imajinasi yang muncul malah gambar rokoknya. Maka orang tetap saja merokok walau dilarang.
Pikiran bawah sadar lebih peka terhadap gambar, Gambar porno yang ada di ponsel para pelajar sekarang sangat mempengaruhi mereka. Maka terjadilah perilaku untuk mempraktikan. Jangan heran banyak beredar video pelajar di internet, banyak berita perkosaan, pelecehan seksual dan lainnya. Jika gambar iklan rokok dipasang cowok yang ganteng dan gagah, maka pikiran bawah sadar kita akan mengikutinya.
Maka sebaiknya bila larangan merokok diganti dengan gambar-gambar pasien rokok, iklan narkoba ditampilkan korban akibat narkoba, atau gambar korban kecelakaan akibat kebut-kebutan. Sebaiknya kita juga mencari kata-kata yang bersifat positif dan tegas dalam mendidik anak, misalnya jangan katakan kepada anak ‘jangan boros’, tetapi ‘berhematlah’, ‘jangan nakal’ tetapi ‘berbuat baiklah’, ‘jangan berdusta’ tetapi ‘jujurlah’.
Otak bawah sadar berfungsi sebagai pengendali kebiasaan dan tempat imajinasi. Ingat kasus anak memenggal temannya sendiri gara-gara seringnya menonton film “hakim Bao” yang menghukum dengan memenggal. Ingat pula smack down yang memakan korban anak usia SD, ingat juga seorang kakek yang tega memerkosa cucunya sendiri, atau seorang paman tega memerkosa keponakannya lantaran seringnya nonton film porno, Ingat kekerasan dikalangan pelajar, adanya Gang perempuan, aksi demo anarkis yang memicu aksi berikutnya untuk anarkis, hal ini sumbangsih dari referensi negatif yang telah membekas di memori.
Film/sinetron yang menampilkan perselingkuhan, hamil diluar nikah, aborsi, pacaran yang berlebihan, rebutan warisan, berorientasi uang dan sebagainya, hal ini telah mengganggu perkembangan kepribadian dan sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Semakin banyak masyarakat melihat gambar kekerasan semakin mudah juga orang melakukan kekerasan, lihat saja berita di TV atau koran sepertinya makin lama makin banyak kasus kekekasan, pembunuhan, perkosaan termasuk mistis.
Kesemuanya itu jika terus menerus masuk ke memori otak, maka lambat laun peristiwa itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan mungkin bisa jadi benar dan ingin menirunya, dalam hal ini yang bekerja adalah otak (pikiran) bawah sadar, bukan otak (pikiran) sadar, jika pikiran sadar yang bekerja, maka pelaku akan mempertimbangkan konsekuensi dari apa yang akan dan telah dilakukan.
Baik dan buruk, benar atau tidak itu hasil kerja dari pikiran sadar, sedangkan pikiran bawah sadar tidak mengenalnya. Tugas kita bersama untuk menjaga kemurnian kasadaran. Pastikan generasi penerus kita tumbuh tanpa mengenal referensi hidup yang negatif (kekerasan, korupsi, perkosaan, perselingkuhan dll), tetapi mereka mengenal referensi yang positif ( kasih sayang, rukun, kerjasama, saling menghormati, harmonis, humanis, disiplin, bertanggungjawab, prestasi dll).

MEMAHAMI KEBERAGAMAN KEMAMPUAN PESERTA DIDIK

Ternyata kemampuan anak itu berbeda
Hal ini sejalan dengan teori bahwa pada dasarnya ada 7(tujuh) kecerdasan yang dimiliki manusia, diantaranya meliputi kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematik, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal , kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal (Gardner, 1983).
Berbicara kemampuan yang dimiliki seseorang tak dapat dilepaskan dari kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Di mana seseorang disebut sukses, apabila hidup dengan harta berlimpah , memiliki fasilitas lengkap untuk melakukan aktivitas apa saja yang disukai. Namun ukuran sukses bagi seorang siswa adalah bila nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasionalnya berada diatas kriteria . Memang ukuran idealnya sukses bukan hanya diukur dengan nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional saja, akan tetapi juga karena kemampuan mengelola emosi dan mental spiritualnya.Tak dapat disangkal kecerdasan intelektual dapat menentukan kelulusan seorang siswa, tetapi bila tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kegagalan, tetap saja berbahaya bagi kelangsungan hidupnya di masa depan. Belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah persiapan mental spiritualnya. Belajar dan berdoa.
Sebagai pendidik yang kebetulan bukan termasuk penyaji materi pelajaran yang di ujikan secara nasional, penting kiranya mengetahui bakat siswa yang memiliki kelemahan dalam salah satu pelajaran yang diujikan secara nasional, akan tetapi istimewa untuk salah satu pelajaran non nas.
Letak pentingnya adalah, perhatian guru terhadap siswa sangat mempengaruhi motivasi pribadi siswa. Terutama bila siswa merasa respek dengan guru tadi. Mengingat dalam keseharian siswa perlu tokoh yang dijadikan pola anutan untuk mempersiapkan masa depannya.
Siswa perlu mengetahui, bahwa dirinya sangatlah berarti di mata Sang Pencipta.
Menyadarkan siswa akan potensi dirinya, diperlukan kearifan pendidik. Pendidik ataupun orangtua sebagai pendidik pertama dan utama, perlu melakukan upaya yang dapat mengembangkan potensi siswa secara maksimal. Bakat yang dimiliki anak perlu kita cermati dengan jeli dan penuh perhatian. Siswa sebagai pribadi yang unik, dengan bakat dan minat tentu berbeda satu dengan yang lain. Maksudnya kita layak memperhatikan keunikan tadi, serta tidak menganggapnya sebagai kertas putih yang siap ditulisi apasaja, apalagi menganggapnya sebagai bejana kosong yang siap untuk diisi. Di era serba cepat ini, teori tadi perlu dipikirkan lagi.
Upaya positif untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa adalah hal yang mutlak.Meskipun terkadang potensi siswa yang kita kembangkan tidak selalu berupa mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Tentunya, hal ini sudah disadari oleh para pakar pendidikan. Kalaupun materi ujian nasional tetap dilaksanakan, tentu tidak lebih hanya sebagai tolok ukur secara nasional. Namun parahnya ujian nasional itu juga menentukan gengsi sekolah. Sehingga jangan heran bila segenap daya dan dana diupayakan untuk mengeksploitasi siswa agar mendapatkan nilai ujian nasional semaksimal mungkin.
Masih lumayan, bila saja sekolah juga memperhatikan kegiatan non akademik yang berupa kegiatan pengembangan potensi siswa, bagaimana bila tidak?
Sebagai contoh pengalaman empiris sepuluh tahun yang lalu ada seorang siswa yang membuat penulis tertegun karena hafal dengan ciri tembang macapat untuk mata pelajaran Bahasa Jawa. Tertegun, karena ada sebelas jenis tembang macapat (asmaradana, dandhang gula, durma, gambuh, kinanthi, maskumambang, magatruh, mijil, pangkur, pucung, sinom) dengan paugeran guru lagu, guru wilangan bahkan guru gatra yang berbeda. Pernah juga penulis tertawa karena ada seorang siswa berasal dari suku Sunda yang merayu penulis untuk memberikan les Bahasa Jawa. Bagaimana tidak tertawa melihat kenyataan ini, karena penulis tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mengajar Bahasa Jawa. Tugas ini penulis terima, hanya karena banyak teman guru yang tidak mau mengajar bahasa Jawa, karena kesulitan menggunakan pengantar bahasa Jawa. Kalaupun pilihan tugas jatuh kepada penulis adalah karena lulusan Sekolah Pendidikan Guru, yang mendapat pelajaran bahasa Jawa lebih banyak daripada lulusan SMA. Disamping itu juga untuk memenuhi tuntutan jam mengajar . Di lain kesempatan seusai mengajar pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, seorang siswa meminta penulis menjelaskan tentang peristiwa lahirnya Supersemar. Pada masa itu membicarakan peristiwa lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret haruslah seperti dalam buku teks. Ada alasan politis yang tidak mungkin dijelaskan.
Beberapa contoh di atas membuat penulis heran,mengingat mata pelajaran yang penulis berikan bukanlah pelajaran yang diujikan secara nasional. Beberapa contoh di atas sengaja penulis tampilkan karena saat ini mereka sudah terjun di masyarakat dengan pekerjaan yang diperhitungkan. Untuk situasi yang dilanda krisis seperti sekarang ini, mereka tampak tidak tergoyahkan dalam bekerja, bahkan mereka nampak sangat percaya diri. Sekali lagi ,baru berdasarkan pengalaman empiris saja, siswa yang memiliki nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional baik, biasanya nilai pelajaran non nas juga baik. Bisa juga siswa yang memiliki satu keunggulan dalam salah satu mata pelajaran non nas , akan menjadi anak yang percaya diri. Hal ini akan memotivasi siswa yang bersangkutan untuk lebih giat belajar mata pelajaran nas. Sehingga pengurangan jam mata pelajaran non nas apalagi sampai menghapusnya dari kegiatan tatap muka menjelang ujian nasional merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Nasib baik , yang oleh orang dikatakan sebagai kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional.Meski tidak dapat dipungkiri , kecerdasan logis matematis sangat berhubungan dengan daya nalar seseorang. Gardner(1983) berpendapat“Siswa yang memiliki dan mengembangkan kecerdasan linguistik dan logis matematis dijamin pasti akan berhasil dalam situasi sekolah tradisional”
Masalahnya bagaimana kalau sekarang mendapati siswa yang dikategorikan ke dalam bimbingan kelas khusus karena mengalami kesulitan dalam menyerap pelajaran matematika, bahasa inggris atau IPA , malah tidak ikut bimbingan?
Tidakkah mereka menyadari masa depan yang dipersiapkan Tuhan untuk mereka, bukanlah sesuatu yang dapat diambil dengan gratis. Melainkan harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh untuk meraihnya. Bertanya, menjelaskan dan kreatif dalam mengerjakan tugas pelajaran non nas, bukankah ini kecerdasanyang terpancar?
Sadarkah bapak dan ibu guru akan hal ini?
Karena bila siswa mendapatkan penghargaan sesuai potensi dirinya yang kebetulan bukan pelajaran nas, maka siswa tersebut akan menjadi percaya diri. Serta mantab dalam mempersiapkan masa depannya menghadapi tantangan global, dengan cara belajar sungguh sungguh. Adakah ini penting?

Pembelajaran Lewat Teori Kecerdasan Majemuk

Setiap anak memiliki kecerdasan dan kemampuan berbeda dalam memahami sebuah mata pelajaran. Seorang pendidik harus bisa memahami kemampuan mereka secara personal. Seorang pendidik tidaklah boleh memaksakan siswanya untuk memahami setiap pelajaran dengan pemahaman yang sama dan sempurna dengan satu takaran kecerdasan, sebab keadaan anak dalam satu kelas berbeda-beda.
Dengan segala macam keadaan siswa, kewajiban seorang pendidik adalah mengakui keberadaannya dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Seorang pendidik harus mengakui dan menghargai bakat dan hasil karya siswa-siswanya. Teori kecerdasan Majemuk mungkin lebih tepat untuk digunakan oleh para pendidik untuk mendampingi siswa-siswanya dalam belajar.
Teori Kecerdasan Majemuk merupakan validitas tertinggi terhadap gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Pemakaian teori ini dalam pendidikan sangat beruntung pada pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing pembelajar. Howard Gardner mengidentifikasikan kecerdasan menjadi tujuh macam.
Pertama, Lingistik (berkaitan dengan bahasa), kecerdasan ini diungkapkan dalam bentuk kata-kata. Mereka yang memiliki kecerdasan ini gemar membaca dan menulis serta memiliki kemampuan mengolah kata secara tulisan maupun lisan. Kedua, Logis-matematis (Nalar logika dan matematika), kecerdasan ini berhubungan dengan kemampuan ilmiah.
Mereka gemar bekerja dengan data, mengumpulkan, dan mengorganisasi, menganalisis serta mengintepresentasikan, menyimpulkan kemudian meramalkan. Mereka melihat dan mencermati adanya pola serta keterkaitan antar data. Kecerdasan ini sering dipandang dan dihargai lebih tinggi dari jenis-jenis kecerdeasan lainnya, khususnya masyarakat teknologi saat ini. Kecerdasan ini dicirikan sebagai kegiatan otak-kiri.
Ketiga, Spacial (Ruang dan Gambar), orang yang memiliki kecerdasan ini cenderung berpikir dalam atau dengan gambar dan cenderung mudah belajar melalui sajian-sajian visual seperti film, gambar, video, dan peragaan yang menggunakan model atau slaid. Mereka suka melukis, menggambar atau mengukir gagasannya dan suuasana hatinya melalui karya seni. Mereka juga mahir dalam menyusun puzzle.
Keempat, Musikal (Musik, irama, dan bunyi/suara), orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya peka dengan suara atau bunyi-bunyian. Terutama nada dan lagu. Mereka memiliki kemampuan memadukan nada dan dapat mereproduksi melodi. Kelima, badani-Kinestik (badan dan gerak tubuh), orang yang memiliki kecerdasan ini memproses informasi melalui sensasi yang dirasakan pada badan mereka.
Mereka tak suka diam dan selalu ingin bergerak terus. Mereka sangat baik dalam ketrampilan jasmaninya. Mereka juga menyukai olahraga dan tarian. Keenam, interpersonal (antar pribadi, sosial), orang yang memiliki kecerdasan ini menyukai kerja kelompok. Mereka menyukai untuk menjadi mediator dalam beberapa masalah atau pertikaian yang terjadi disekitarnya.
Ketujuh, intrapersonal (Hal-hal yang sangat mempribadi), mereka yang memiliki kecerdasan ini bisa memahami dirinya sendiri. Biasanya mereka mandiri, tak tergantung pada orang lain. Umumnya mereka memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Dari ketujuh kecerdasan di atas tentunya berbeda yang dimiliki setiap anak. Cara mereka dalam menerima dan memahami pelajaran pun berbeda-beda.
Seorang siswa yang memiliki Kecerdasan Logis-Matematis mungkin lebih cepat memahami pelajaran matematika dari pada mereka yang memiliki Kecerdasan Linguistik. Begitu juga mereka yang memiliki Kecerdasan Musikal akan lebih cepat mengenal dan menghafal sebuah nada dari pada mereka yang memiliki Kecerdasan Logis-Matematis.
Jika seorang pendidik mampu membedakan kecerdasan-kecerdasan tersebut pada tiap anak didiknya, dan mampu memahami dan mengolahnya, tentunya akan mendapatkan hasil yang maksimal. Karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dan kemampuan mereka ingin sama-sama diakui oleh gurunya. Bukan hanya yang memiliki kecerdasan matematik saja, karena lebih terlihat jenius. Tapi mereka yang suka menulis dan bernyanyi pun ingin mendapatkan pengakuan dan pujian dari gurunya.
Tujuh kecerdasan di atas juga dapat di pautkan dan akan menghasilkan hasil yang lebih maksimal, karena adanya kerja sama untuk menyempurnakan kekurangan dan kelebihan dari masing-masing kecerdasan. Apalagi kecerdasan yang dimiliki seorang anak tentunya berbeda-beda. Dan pastinya setiap anak memiliki lebih dari satu kecerdasan.
Dari situ juga seorang pendidik juga bisa menyatukan kecerdasan mereka dengan mengadakan sebuah even di kelas, dengan mengikut sertakan semua anak didik sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pastinya dari perpaduan tersebut akan menghasilkan hasil yang maksimal. Wallahu A’lam!

Inti dari Mengajar adalah Memotivasi

Dengan wajah lesu, seorang guru keluar dari kelas. Nampak ia gusar lantaran dalam KBM yang baru dilakukan mengalami kegagalan. Dari wajahnya, rasa capek dan hampir putus asa terlihat, apalagi satu bulan sepuluh hari kedepan sudah ujian nasional. ”Diremidi pada materi yang sama dan berulang-ulang, bahkan hingga 5 kali tetap nilainya belum tuntas,” gusarnya dengan wajah memerah.

Sebagai kepala sekolah, penulis beberapa kali mengamati tidak kurang sepuluh guru terkait dengan motivasi mereka sebelum mengajar. Hasilnya cukup mengejutkan, hanya 10 persen saja guru yang memulai pembelajaran dengan motivasi lebih pada peserta didiknya. Padahal peran motivasi ini sangat memengaruhi keberhasilan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bagi penulis, inti dari mengajar adalah memotivasi.
Penelitian William James mengungkap bahwa seseorang akan dapat menggunakan hampir 80 persen kemampuan mereka apabila ia termotivasi dengan baik. Pada kondisi gagal sekalipun, mereka akan melipatgandakan upaya sampai benar berhasil. Tidak mengherankan bila siswa yang memiliki motivasi tinggi cenderung berhasil dalam tugas-tugas sekolahnya dan cenderung lebih pintar sewaktu kelak menjadi dewasa.
Maka seorang guru harus jeli sebelum menyampaikan pelajaran. Alangkah baiknya melihat satu persatu kondisi peserta didik. Kadang ada siswa yang masih ngoroti pensil, ada yang tegang, ada yang mengantuk, dan ada juga yang masih mengerjakan PR karena begitu takutnya akan hukuman. Menghadapi situasi ini salah satu cara mencairkan suasana dengan menanyakan kabar; ”Anak-anak, apa kabar hari ini?”
Selanjutnya saat menyampaikan pelajaran, guru hendaknya lebih dulu menyampaikan materi apa yang akan kita pelajari termasuk apa manfaatnya dan ruginya bila tidak menyimak. Ini penting untuk memastikan kondisi anak siap menerima pelajaran juga dalam rangka menyertakan dan memikat merekasehingga menciptakan jalinan dan kepemilikan bersama untuk menumbuhkan “kebutuhan untuk mengetahui”.
Penulis sering menjumpai guru datang tanpa persiapan. Setelah salam guru langsung memerintahkan anak untuk membuka LKS; halaman sekian, kerjakan poin A, B dan C. Setelah itu guru sibuk dengan LKG (lembar kerja guru), entah itu menyelesaikan LPJ kepanitiaan yang belum rampung atau mengerjakan persiapan mengajar yang sering diingatkan kepala sekolah, atau kesibukan yang lainnya.
Malah ada guru ketika selesai menjawab salam langsung memberi tugas dengan sistem CTL. Tapi bukan Contextual Teaching and Learning melainkan Catat Tinggal Lungo; siswa diberi tugas mencatat lalu di tinggal pergi karena suatu urusan guru yang belum terselesaikan. Kalau tidak begitu, guru menerapkan sistem CBSA (Catat Buku Sampai Abis). Model seperti ini bisa diibaratkan pertandingan sepakbola.
Anak-anak belum melakukan pemanasan dalam pembelajaran, langsung menuju medan pertandingan. Bisa dipastikan mereka cepat lelah, konsentrasinya tidak bertahan lama dan merasa jenuh dengan model pembelajaran yang demikian. Sekali lagi disinilah pentingnya motivasi di awal pelajaran. Bila akar motivasi tertanam kuat pada diri anak, maka pelajaran 2 jam terasa 2 menit, terlontarlah kata-kata ”Lho kok sudah selesai, Bu”.
Motivasi membuat siswa enjoy, dan enjoy membuat siswa siap belajar dengan lebih mudah, dan bahkan dapat mengubah sikap negatif, seperti malas, jenuh, cepat lelah dan sebagainya. Dengan motivasi yang kuat, seorang guru berhasil mengantarkan muridnya 20 kali lebih cepat dari sang guru. Dengan kekuatan motivasi, seorang murid mampu, betah belajar di bawah atap yang bocor (laskar pelangi).
Bisakah kita sebagai guru meracik kata demi kata untuk memotivasi siswa, sehingga menjadi obat kuat yang mujarab menghilangkan rasa malas, jenuh dan rasa kantuk di saat belajar dalam kelas?. Bisakah kita sebagai guru mampu mengubah pandangan mereka, dengan terlebih dahulu memulai dari kita dengan pandangan yang positif, sehinga mereka benar-benar menjadi murid yang istimewa baik akademik maupun non akademik?
Bisakah kita sebagai guru, mampu menjadi teladan sehingga mereka tidak hampa dalam mencari jati diri mereka secara nyata? Maka saatnyalah mulai dari sekarang, kita harus berupaya untuk melakukan seoptimal dan semaksimal mungkin. Semoga!

Mengukur Model Lesson Study Mahasiswa PPL

Pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan ilmu kependidikan –dahulu lebih dikenal sebagai IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan)- kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan mata kuliah wajib. Kegiatan ini sebagai upaya meningkatkan kemampuan mahasiswa program studi pendidikan yang notabene calon-calon guru. Tentu saja metode pembelajaran dalam kegiatan PPL ini amat beragam.
Seperti yang dilakukan oleh FPMIPA Universitas Negeri Malang, mereka menggagas suatu bentuk pelaksanaan PPL yang berbasis lesson study. Model ini diperuntukan bagi Dosen Pembimbing PPL (DPL), Guru Pamong (GP), dan mahasiswa peserta PPL. Hanya saja pelaksanaan dari model ini masih perlu diukur efektivitasnya, mengingat dengan bekal pengetahuan yang minim tentang lesson study, guru pamong dan mahasiswa PPL tidak cukup mampu melaksanakan prosedur standar lesson study.
Lesson study (jugyokenyu) adalah suatu proses sistematis yang digunakan oleh guru-guru Jepang untuk menguji keefektifan pengajarannya dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran. Proses sistematis yang dimaksud adalah kerja guru-guru secara kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajaran secara bersiklus dan terus menerus.
Dalam tahap awal pengenalan lesson study ada tiga tahap utama, yakni: (1) Perencanaan (Plan), (2) Pelaksanaan (Do), dan Melihat/refleksi (See). Ketiga tahapan tersebut dilakukan secara berulang dan terus menerus (siklus).
Tahap perencanaan (Plan) bertujuan untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan peserta didik secara efektif serta membangkitkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran.
Tahap pelaksanaan (Do) dimaksudkan untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Salah satu anggota bertindak sebagai guru sedangkan yang lain bertindak sebagai pengamat (observer). Fokus pengamatan diarahkan pada aktivitas belajar peserta didik bukan untuk mengevaluasi penampilan guru yang sedang bertugas mengajar.
Tahap refleksi (See) dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran, selanjutnya pengamat diminta menyampaikan komentar, kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti guru demi perbaikan.
Dalam praktiknya di sekolah, penulis (pertama kali menjadi guru pamong dengan lesson study ), terjadi miskonsepsi dan kerancuan antara lesson study dengan peer teaching, padahal yang pertama kali berperan sebagai guru model adalah guru pamong, maka fokus pengamatan mahasiswa PPL yang berperan sebagai observer bukan lagi pada proses belajar siswa tetapi pada aktivitas guru dalam mengajar.
Alhasil ketika diskusi refleksi mahasiswa PPL dengan semangat penuh idealisme menyampaikan komentar yang bersifat “menggurui” selama mengevaluasi penampilan guru pamong yang sedang bertugas mengajar mulai dari pengelolaan kelas, lama waktu memotivasi siswa, menyiapkan psikologis / mental dan fisik siswa , variasi metode dalam satu kali tatap muka, sampai pada penetapan prosentase kemampuan memori siswa tanpa mengadakan ulangan.
Di satu sisi betapa menakjubkan fenomena ini, lulusan calon guru yang akan datang mampu menerawang hasil pembelajaran tanpa melaksanakan ulangan, kemampuan ini tidak dimiliki penulis yang lulusan IKIP Negeri Malang seperempat abad tahun yang lalu (tahun 1984), di sisi lain apakah ini lesson learned bagi guru mahasiswa PPL dengan tanpa mengindahkan perasaan manusiawi guru pamong yang merasa “ digurui “ bahkan direndahkan karena disupervisi oleh mahasiswa PPL calon guru.
Sebagai guru pamong pemula di sekolah swasta yang mempunyai siswa dengan beragam latar belakang dan kemampuan akademik yang sedang, apakah harus dapat menerima masukan dari pengamat tanpa harus tersinggung ?
Semoga kejadian ini tidak terulang lagi, tidak menimpa guru pamong lainnya dan semoga di masa mendatang mahasiswa calon guru PPL dipersiapkan lebih matang untuk ber-lesson study di lapangan

Mewaspadai Pengaruh Narkoba pada Pelajar

Saat ini jumlah pengguna narkoba (narkotik dan obat psikotropika) di seluruh Indonesia sudah mencapai 3,2 juta orang. Angka ini sulit ditekan karena informasi akan efek pengguna narkoba itu tidak tersampaikan dengan baik, akibatnya masih banyak kalangan yang masih terjerat barang haram tersebut. Peredaran narkoba saat ini tidak hanya ditingkat orang dewasa namun juga beredar ditingkat remaja. Sekretaris Gerakan Anti Narkoba (Granat) Azrai MSp mengatakan hal itu terjadi akibat pesatnya informasi dan minimnya upaya pengawasan bahaya narkoba di sekolah.
Indonesia sudah pernah mengesekusi dua terpidana mati atas kasus narkoba, dua warga “ Asing “ tersebut telah terbukti menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Eksekusi tersebut ternyata belum memberikan efek jera bagi warga Indonesia maupun asing. Hal itu terbukti dalam operasi yang dilakukan Kepolisian Daerah di bulan Februari tahun ini mampu membongkar jaringan narkoba sekaligus pabrik sabu yang sudah berskala besar di Perumahan Sawojajar II Kota Malang .
Tak tanggung-tanggung usaha barang haram tersebut sudah meraup omset miliaran rupiah selama tiap bulannya. Padahal pemerintah melalui UU No 22/1997 dan UU No 5/1997 menetapkan Narkoba sebagai salah satu bencana bangsa untuk terus diperangi, sebab akan merusak generasi penerus bangsa.
Orang tua dan guru merupakan komponen terpenting selain siswa itu sendiri yang mau membentengi dirinya . Selama ini tiga komponen tersebut belum mendapatkan pemahaman yang baik atas dampak dan pencegahan narkoba. Riset Universitas Indonesia menunjukan angka penyalagunaan narkoba pada pelajar dan mahasiswa sejak tahun 2003 sampai dengan 2006 meningkat dari 3,9% menjadi 5,3% atau jumlah totalnya 1.037.682 siswa.
Menanggapi permasalah tersebut Badan Narkotika Nasional (BNN) kini sudah mulai menggarap sekolah dan kampus untuk membangun benteng anti narkoba melalui “ Drugs-Campaigs Goes to School and Campus”. Demi lancar dan berhasilnya program tersebut BNN mengandeng Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) salah satu alasannya banyak pengguna narkoba di dunia pendidikan, termasuk pelajar dan mahasiswa.
Inti kampanye yang diberi tajuk Anti-Drugs Campaigs Goes to School and Campus ( Kampaye Anti Narkoba masuk sekolah dan Kampus) itu adalah memberikan peringatan sejak dini. Jangan sampai generasi narkoba tergiur narkoba. Karena selama ini sekolah juga tidak mampu memberikan pengawasan yang ketat dengan melakukan tes urine atau pemeriksaan atas sekolah secara intensif pada siswa.
Berdasar penelusuran yang dilakukan Gerakan Anti Narkoba (Granat) selama ini terungkap bahwa narkoba diperoleh dan dikonsumsi dari empat sumber yakni warung yang berada di sekitar sekolah, preman, siswa dan alumni. Konsumen yang dicarinya bukanlah orang yang kaya tetapi siswa miskin, siswa pintar dan berprestasi. Siswa miskin sangat mudah terpancing, yang pada awalnya diberikan secara gratis. Ketika sudah kecanduan siswa itu akan berusaha mencarinya, namun karena tak punya uang, si Bandar menyuruhnya menjual dengan imbalan beberapa paket.
Selain proses penegakan hokum, pemberantasan kejahatan narkoba harus benar-benar tegas dan tuntas, salah satu upaya pencegahan itu adalah melakukan kampanye anti narkoba yang bias di pahami oleh masyarakat.
Sebenarnya, BNN sudah membuat Memorandum of Understanding (MoU) dengan Forum Rektor Indonesia dan Majlis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia tentang masyarakat kampus yang bebas narkoba. Di sekolah-sekolah perlu memanfaatkan UKS untuk kampanye anti narkoba. Alasannya Unit tersebut memiliki paying hokum yang kuat yaitu: Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri yaitu: Mendiknas, Menkes, Menag dan Mendagri.
Selain itu kampanye anti narkoba disekolah juga didukung oleh mata pelajaran yang diajarkan. Berdasarkan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, terdapat lima kelompok mata pelajaran. Salah satunya mata pelajaran yang termasuk kelompok pendidikan kesehatan dan jasmani. Maka dari itu mari kita dukung Indonesia masuk Negara-negara anggota ASEAN yang mendeklarasikan ASEAN bebas narkoba pada tahun 2005.

Penerapan Multiple Intellegence pada PAI

Untuk dapat menerapkan model pembelajaran di sekolah sebaiknya menerapkannya pada diri kita sendiri sebagai pendidik agar memiliki pemahaman empiris tentang teori tersebut., baru kepada anak didik. Untuk menilai kecerdasan majemuk pada diri kita sendiri adalah melalui penilaian kinerja secara realistis pada berbagai macam tugas, kegiatan dan pengalaman yang berkaitan dengan setiap kecerdasan. Untuk dapat menghubungkan kita dengan pengalaman hidup yang memanfaatkan kedelapan kecerdasan, sehingga kenangan, perasaan dan gagasan apakah yang muncul dari proses ini bisa dibantu dengan lembar kuesioner KM.
Teori kecerdasan majemuk adalah model yang sangat tepat untuk melihat kekuatan mengajar maupun untuk mempelajari wilayah-wilayah yang perlu diperbaiki. Mungkin kita akan menghindar jika dalam mengajar harus menggambar di papan tulis atau enggan menggunakan bahan-bahan grafis saat presentasi karena kecerdasan spasial kita belum cukup dikembangkan dalam hidup. Atau mungkin kita cenderung pada strategi belajar kelompok atau kegiatan ekologis karena kita termasuk pendidik yang interpersonal atau naturalis.

Cara-cara penggunaan sumber-sumber kecerdasan antara lain :
1) Meminta bantuan teman yang ahli, maksudnya jika kita kehabisan akal untuk mengajar di kelas menggunakan alat musik, karena kecerdasan musikal kita rendah bisa minta bantuan pada guru musik atau kolega berbakat musik,
2) Meminta bantuan siswa, maksudnya siswa sering memberikan solusi dan menunjukkan kemahiran di wilayah tertentu yang kurang dikuasai pendidik, seperti mengakses data di internet,
3) Menggunakan teknologi yang ada maksudnya adalah gunakan daya teknis sekolah untuk menyediakan informasi yang tidak dapat kita kuasai, contohnya jika kita bukan pengajar yang berorientasi pada gambar bisa memutar video.

Sejumlah pengaruh lingkungan juga berpengaruh mendorong atau menghambat perkembangan kecerdasan antara lain :
1) Akses ke sumber daya : maksudnya apabila keluarga tidak mampu membelikan siswa piano, piano atau alat musik lain maka kecerdasan musik tidak akan berkembang,
2) Faktor historis kultural maksudnya apabila siswa memiliki kecenderungan pada matematika banyak mendapat subsidi maka kemungkinan kecerdasan matematika logis akan berkembang,
3) Faktor geografis maksudnya apabila siswa dibesarkan di lingkungan pertanian akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan naturalis atau kinestetis jasmani dibandingkan siswa yang tinggal di apartemen atau kota-kota besar,
4) Faktor keluarga maksudnya bila siswa kecenderungan ingin menjadi seniman, terus dipaksakan oleh orang tua menjadi ahli hukum maka akan mendorong perkembangan kecerdasan linguistik tetapi menghambat kemajuan kecerdasan spasia.

Kemudian bila kita coba tarik pada alam “kita” yaitu dunia pendidikan Islam bagaimana bentuk penerapan multiple intelligence dalam pendidikan agama Islam.
Anak-anak yang memiliki kecerdasan dalam menggunakan kata-kata dapat mempelajari PAI dengan pantun, puisi dan lain-lain. Anak-anak yang memiliki kecerdasan dalam bidang musik (Musical Intelligence) juga dapat mempelajari PAI dengan mengarang lagu-lagu untuk mengingat fakta-fakta dalam PAI. Anak-anak yang memiliki kecerdasan dalam menggunakan gambar (Visual-Spatial Intelligence) dapat mempelajari PAI dengan membuat komik/cerita bergambar, lukisan dan lain-lain. Anak-anak yang memiliki kecerdasan dalam memahami tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelligence) dapat mempelajari PAI melalui drama dan tari-tarian.
Multiple Intelligence pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emotional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Celakanya, pola pemikiran tradisional dalam pendidikan acapkali lebih menekankan pada kemampuan logika-matematika dan bahasa. Padahal, setiap orang memiliki cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain.