Kamis, 19 Agustus 2010

Mengonsep Peta Kurikulum di Awal Tahun

Salah satu peran yang menggerakkan mutu pendidikan adalah jelasnya konsep kurikulum. Secara garis besar, kurikulum menurut dasar artikulasi memiliki arti pengalaman belajar siswa. Pengalaman ini dimaksudkan sebagai lintasan pendidikan yang dilalui siswa di sekolah. Di dalamnya terdapat pembelajaran teoritis, sikap, moril, agama, perilaku, dan sosialisasi.
Kurikulum di Indonesia sendiri banyak mengalami perubahan, mulai dari kurikulum awal sampai dengan KBK (kurikulum berbasis kompetensi) dan KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) sekarang ini. Dari pergantian tersebut memiliki tujuan yang sama yakni menciptakan mutu afektif, kognitif, dan psikomotor siswa tetapi konsep dan covernya yang berbeda.
Sebuah kurikulum akan terlaksana dengan baik apabila sekolah kritis dan mengerti konsep kurikulum yang akan dilaksankan. Seperti diulas Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA bahwa penciptaan kurikulum harus mengacu pada ketiga aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik serta memasukkan unsur pendidikan, moral, agama, estetika, teknologi, dan hal yang sifatnya universal.
Konsep kurikulum yang bermutu dapat dicapai dengan mereview kurikulum sebelumnya. Dalam membuat kurikulum, sekolah perlu memperhatikan beberapa hal yang meliputi universal, humanisty, culture dan religi. Unsur universal adalah unsur yang sangat diperlukan dalam menghadapi globalisasi pendidikan dunia, seperti matematika, sains, bahasa, dan teknologi.
Substansi tersebut diperlukan karena siswa diharapkan bisa mengikuti era globalisasi dunia dengan baik. Matematika sebagai dasar perhitungan yang sangat diperlukan dalam keseharian, bahasa sebagai salah satu unsur komunikasi verbal antar sesama , sains sebagai pengetahuan tentang kehidupan serta teknologi sebagai aplikasi kemajuan jaman.
Humanisty merupakan sifat kemanusiaan yang harus selalu dipupuk dan dipertahankan.
Sekolah dapat memasukkan hal ini dalam pembelajaran sebagai dasar bersosialisasi dengan lingkungan dan sesama manusia. Humanisty memiliki peranan penting karena siswa tidak hanya diciptakan ahli dalam teori tetapi juga harus memahami makna kehidupan dengan baik. Substansi tersebut akan menyeimbangkan antara kehidupan pendidikan dengan kehidupan nyata bermasyarakat pada nantinya.
Culture merupakan regenerasi untuk mempertahankan ciri khas bangsa. Manusia lahir dari peradaban yang tinggi dengan kreasi yang beragam, dan itu tidak boleh dilupakan agar muncul generasi yang mengerti sejarah awal kemajuan suatu bangsa. Sekolah perlu memunculkan sisi culture pada siswa agar pada nantinya output yang dihasilkan tidak melupakan ajaran dan pengalaman masa lalu serta sisi sosial yang tinggi.
Pembelajaran di luar kelas dapat dimasukkan dalam substansi ini, seperti menggali sejarah bangsa bahkan membuat replika tentang segala hal yang berkaitan dengan budaya bangsa tentunya mengarah pada materi seni budaya. Budaya pada sekolah dapat juga dihasilkan dari pembelajaran yang sifatnya mengacu pada aspek psikomotor siswa seperti kegiatan seni.
Kegiatan ini sangat penting sekali dimana seni merupakan bahasa universal yang sangat diperlukan. Dalam sedikit ulasan, dikatakan bahwa manusia tidak hanya harus mengenal pendidikan tetapi juga mengenal seni akan menghasilkan sesuatu yang indah/ yang bermanfaat bagi kehidupan. Pentingya mengonsep kurikulum ini ditujukan agar output yang akan dihasilkan benar-benar bermutu.
Religi merupakan unsur kejiwaan dan ketuhanan yang diharuskan ada dalam pembelajaran siswa. Guru sebagai pelaku pendidikan tidak hanya mengoptimalkan sisi pengajaran tetapi guru juga harus bisa mendidik siswanya menjadi insan yang bermoral dan beragama. Pendidikan yang bermutu tidak ada artinya apabila individu yang berkaitan lupa akan prinsip ketuhanan.
Kepala sekolah harus mampu menyusun segala pengalam belajar siswa ini dengan baik, ini ditujukan agar output sekolah akan sesuai dengan kebutuhan. Kebijakan sekolah sangat berperan dalam memainkan kurikulum baru yang akan dilaksanakan. Konsep universal, humanisty, culture dan religi dalam menyusun kurikulum yang baru harus dimasukkan dan dikreasikan untuk mengembangkan pola pemikiran siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar