Mencermati permasalahan yang dihadapi oleh anak masa puber sangat mengundang perhatian para pemerhati anak dan remaja. Peristiwa demi peristiwa mewarnai kehidupan anak-anak puber modern yang telah melampaui dan lebih jauh lagi keluar dari tatanan nilai-nilai moral yang telah dibangun ratusan tahun silam oleh nenek moyang dan agama. Mereka lebih senang membangun nilai-nilai baru yang berkembang masa kini.
Pendidikan yang berkembang selama ini cenderung mengandalkan pada kecerdasan intelektual. Model seperti ini hanya menekankan pada ketercapaian secara intelegensia dengan tolok ukur nilai ulangan, nilai tugas atau nilai rapor yang tinggi. Dengan kata lain pengembangan pendidikan di sekolah adalah kemampuan otak kiri (logis rasionalistic). Sedang intuitif moralistic (pembentukan moral) cenderung diabaikan.
Padahal pembentukan moral amat penting dalam pertumbuhan anak agar mampu beradaptasi dengan lingkungannya tanpa harus terpengaruh dengan nilai-nilai negatif yang ada. Intuitif moralistic juga penting dalam mengasah kepekaan dan kemampuan emosi spiritual. Perubahan tatanan nilai memang tidak sekara terjadi pada anak namun juga terjadi pada pendidik.
Perubahan sikap negatif (negative attitude) terkadang murni tidak muncul dari keunikan yang dimiliki namun lebih dipengaruhi oleh external factor. Sikap yang muncul kebanyakan bentuk peniruan dari media tontonannya atau dikarenakan pada dunia global saat ini dimana media menjadi sangat bebas tersebar dikalangan anak-anak tanpa filter terhadap perilaku luar dirinya.
Media elektronik saat ini memang menjadi konsumsi harian dengan segala macam tontonannya yang tidak pantas ntuk anak-anak. Hasilnya dampak tontonan ini terwujud menjadi perilaku anak-anak. Pada prinsipnya anak banyak belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar dan akan lebih melekat dengan apa yang dilakukannya. Oleh karena itu tidak selamanya anak itu salah dan diberi hukuman atas perilakunya.
Selain external factor sebagai penyebab prubahan negative attitude, ada pula faktor unfocus dari pendidik yang harusnya lebih perhatian terhadap intuitif moralistic. Pendidik tidak memperhatikan kelebihan atas kemampuan masing-masing siswa sehingga pekerjaan utama pendidik telah lepas dari hakikat mengajar yaitu menjadikan anak mampu belajar dan memiliki moral terpuji.
Sikap seperti inilah yang menjadikan anak tidak bangga lagi dengan perubahan sikap positif dirinya namun lebih bangga dengan pengumpulan nilai tinggi terhadap mata pelajaran. Logis rasionalistic menjadi dominan dalam diri anak dan menguasai obsesi dirinya untuk mencapai nilai tertinggi tanpa memedulikan terhadap potensi intuitif moralistic yang dimiliki.
Dengan pendidikan yang mengedepankan intuitif moralistic pada anak-anak akan menjadikan mereka bertahan dan mampu menghadapi efek globalisasi. Intuitif moralistic yang dimaksud adalah pendidikan moral melalui agama dan pembiasaan terhadap perbuatan baik anak, baik yang harus dimunculkan oleh pendidik maupun teman sejawatnya.
Intuitif moralistic terwujud dari aktivitas yang diberikan terhadap anak baik pada saat pembelajaran maupun aktivitas di luar pembelajaran dengan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kepekaan anak terhadap sikap orang lan maupun lingkungannya. Oleh karenanya perlu ada perhatian dan peningkatan penerapan intuitif moralistic yang berbentuk pemberian motivasi moral.
Tujuan pemberian materi tersebut dalam rangka mengetuk dan melembutkan hati pendidik dan anak-anak kerena prinsipnya kepekaan moral akan mudah masuk pada diri seseorang ketika hati mulai lembut dan peka terhadap kondisi lingkungan. Pelaksanaan materi atau kegiatan tersebut dapat dilakukan setiap saat di sekolah atau sesuai pengelompokan permasalahan anak.
Faktanya, seringkali sekolah melakukan self intropection kontemplasi hanya pada saat mendekati ujian nasional. Itu pun dalam rangka bisa lulus dalan ujian artinya nilai masih menjadi dominasi tujuan (value dominating). Jika intuitif moralistic diterapkan sejak dini maka sekolah atau lembaga pendidikan tidak akan lagi diibukkan dengan kenakalan anak dan pada saat persiapan ujian akhir mereka sudah memahami tanggung jawabnya.
Untuk melaksanakan intuitif moralistic perlu adanya komunikasi aktif antara pendidik dan anak-anak selaku peserta didik sehingga pelaku pendidikan saling memahami dan dipahami maka visi dan misi pendidikan yang diharapkan segera tercapai dengan baik
Pendidikan yang berkembang selama ini cenderung mengandalkan pada kecerdasan intelektual. Model seperti ini hanya menekankan pada ketercapaian secara intelegensia dengan tolok ukur nilai ulangan, nilai tugas atau nilai rapor yang tinggi. Dengan kata lain pengembangan pendidikan di sekolah adalah kemampuan otak kiri (logis rasionalistic). Sedang intuitif moralistic (pembentukan moral) cenderung diabaikan.
Padahal pembentukan moral amat penting dalam pertumbuhan anak agar mampu beradaptasi dengan lingkungannya tanpa harus terpengaruh dengan nilai-nilai negatif yang ada. Intuitif moralistic juga penting dalam mengasah kepekaan dan kemampuan emosi spiritual. Perubahan tatanan nilai memang tidak sekara terjadi pada anak namun juga terjadi pada pendidik.
Perubahan sikap negatif (negative attitude) terkadang murni tidak muncul dari keunikan yang dimiliki namun lebih dipengaruhi oleh external factor. Sikap yang muncul kebanyakan bentuk peniruan dari media tontonannya atau dikarenakan pada dunia global saat ini dimana media menjadi sangat bebas tersebar dikalangan anak-anak tanpa filter terhadap perilaku luar dirinya.
Media elektronik saat ini memang menjadi konsumsi harian dengan segala macam tontonannya yang tidak pantas ntuk anak-anak. Hasilnya dampak tontonan ini terwujud menjadi perilaku anak-anak. Pada prinsipnya anak banyak belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar dan akan lebih melekat dengan apa yang dilakukannya. Oleh karena itu tidak selamanya anak itu salah dan diberi hukuman atas perilakunya.
Selain external factor sebagai penyebab prubahan negative attitude, ada pula faktor unfocus dari pendidik yang harusnya lebih perhatian terhadap intuitif moralistic. Pendidik tidak memperhatikan kelebihan atas kemampuan masing-masing siswa sehingga pekerjaan utama pendidik telah lepas dari hakikat mengajar yaitu menjadikan anak mampu belajar dan memiliki moral terpuji.
Sikap seperti inilah yang menjadikan anak tidak bangga lagi dengan perubahan sikap positif dirinya namun lebih bangga dengan pengumpulan nilai tinggi terhadap mata pelajaran. Logis rasionalistic menjadi dominan dalam diri anak dan menguasai obsesi dirinya untuk mencapai nilai tertinggi tanpa memedulikan terhadap potensi intuitif moralistic yang dimiliki.
Dengan pendidikan yang mengedepankan intuitif moralistic pada anak-anak akan menjadikan mereka bertahan dan mampu menghadapi efek globalisasi. Intuitif moralistic yang dimaksud adalah pendidikan moral melalui agama dan pembiasaan terhadap perbuatan baik anak, baik yang harus dimunculkan oleh pendidik maupun teman sejawatnya.
Intuitif moralistic terwujud dari aktivitas yang diberikan terhadap anak baik pada saat pembelajaran maupun aktivitas di luar pembelajaran dengan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kepekaan anak terhadap sikap orang lan maupun lingkungannya. Oleh karenanya perlu ada perhatian dan peningkatan penerapan intuitif moralistic yang berbentuk pemberian motivasi moral.
Tujuan pemberian materi tersebut dalam rangka mengetuk dan melembutkan hati pendidik dan anak-anak kerena prinsipnya kepekaan moral akan mudah masuk pada diri seseorang ketika hati mulai lembut dan peka terhadap kondisi lingkungan. Pelaksanaan materi atau kegiatan tersebut dapat dilakukan setiap saat di sekolah atau sesuai pengelompokan permasalahan anak.
Faktanya, seringkali sekolah melakukan self intropection kontemplasi hanya pada saat mendekati ujian nasional. Itu pun dalam rangka bisa lulus dalan ujian artinya nilai masih menjadi dominasi tujuan (value dominating). Jika intuitif moralistic diterapkan sejak dini maka sekolah atau lembaga pendidikan tidak akan lagi diibukkan dengan kenakalan anak dan pada saat persiapan ujian akhir mereka sudah memahami tanggung jawabnya.
Untuk melaksanakan intuitif moralistic perlu adanya komunikasi aktif antara pendidik dan anak-anak selaku peserta didik sehingga pelaku pendidikan saling memahami dan dipahami maka visi dan misi pendidikan yang diharapkan segera tercapai dengan baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar