Potret Indonesia di masa datang, sebagian bisa diprediksi dari apa yang dikonsumsi oleh anak-anak melalui media, khususnya televisi yang berorientasi pada akumulasi dan ekspandi modal. Ungkapan ini dikemukakan Dedy N Hidayat PhD, ketua program pascasarjana departemen komunikasi pada FISIP Universitas Indonesia. Ungkapan ini setidaknya bisa menjadi bekal kita dalam menyikapi tontonan di televisi sekarang ini.
Rasa-rasanya, apa yang diungkap pakar komunikasi tersebut ada benarnya. Di masa sekarang ini hampir tidak ada anak-anak yang tidak gandrung bahkan kecanduan terhadap tayangan yang ada di televisi kita. Tayangan itu mulai dari sinetron hingga berbagai jenis iklan yang sebenarnya kurang pas untuk dilihat bahkan produknya dikonsumsi oleh anak.
Memeringati Hari Tanpa TV (HTT) pada tanggal 26 Juli 2009 lalu, rasanya ada yang tidak patut dibanggakan bagi generasi muda kita saat ini, yaitu karena anak-anak kita telah menjadi pecandu TV yang tingkatannya bisa dikategorikan high stadium.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa kemajuan dan perubahan banyak terjadi sejak TV ditemukan.
Kita dapat menyaksikan berbagai jenis film, dari film kartun, drama, biografi, aksi, edukasi, musik, liputan berita tentang berbagai peristiwa dari seluruh dunia dan lain sebagainya, dari dalam dan luar negeri. Jadi, jika memang begitu banyak kemajuan yang diberikan dengan adanya TV, lalu apa masalahnya ? Problemnya adalah berapa lama anak-anak kita menonton TV, dan apa pengaruhnya bagi mereka ?
Efek baik dari televisi bagi anak antara lain dapat menambah kosakata (vocabulary) terutama kata-kata yang tidak terlalu sering digunakan sehari-hari. Anak juga dapat belajar tentang berbagai hal melalui program edukasi dari siaran televisi, walaupun persentasi acara televisi yang bersifat pendidikan masih sangat sedikit. Selain itu anak akan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan peristiwa yang terjadi di dunia, dan perkembangan permasalahan yang ada di luar lingkungannya.
Film pun ada juga yang bagus dan mendidik, yang selain memberi hiburan juga mengajarkan anak berbagai hal yang baik, tentang sikap-sikap yang baik, tentang nilai-nilai kemanusiaan, tentang nilai keagamaan, tentang perilaku sehari-hari yang seharusnya kita lakukan, dan lain sebagainya.
Adapun efek negatif yang ditimbulkan dari banyaknya menonton TV antara lain, pertama, adalah ketidakmampuan seorang anak untuk membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan apa yang sebenarnya, mereka dapat menganggap kekerasan yang terjadi di televisi boleh saja dilakakukan di dunia nyata. Terkadang, sinetron membuat anak menjadi berperilaku cepat dewasa untuk ukuran usianya. Pengaruh kedua, adalah anak menjadi pasif dan tidak kreatif.
Dengan hanya duduk di depan TV, mengakibatkan mereka kurang beraktivitas. Baik secara fisik maupun mental, anak menjadi pasif, karena mereka tidak tidak perlu berbuat apa-apa. Hanya duduk, mendengar dan melihat apa yang ada di TV. Kemampuan berpikir dan kreatifitas anak tidak terasah, karena ia tidak perlu lagi membayangkan sesuatu seperti halnya bila ia membaca buku atau mendengar musik.
Efek ketiga, waktu belajar akan terpotong oleh jam-jam tertentu di mana acara TV sedang diputar. Kelanjutan dari berkurangnya waktu belajar ini tentunya akan mempengaruhi prestasi di sekolah. Anak yang belajarnya kurang, tentu nilai-nilainya di sekolah akan kurang baik dibanding teman-temannya yang lebih rajin. Efek selanjutnya, stimulasi berupa interaksi sesama anak dan orang dewasa di sekitarnya menjadi minimal, dan dapat berakibat anak jadi "kuper" (kurang pergaulan).
Bahkan ada sebagian orangtua yang menjadikan TV sebagai "Electronic babysitter" dengan dalih untuk melindungi mereka dari “kejahatan” dunia luar. Mereka menganggap dengan duduk di depan televisi keamanan anak akan lebih terjaga dan lebih mudah diawasi. Pada akhirnya si anak menjadi berkurang waktunya untuk bersama orang tuanya, dan tentunya mengurangi kedekatan antara si anak dan orang tua.
Untuk melindungi anak-anak kita dari pengaruh negatif televisi itulah, maka kita patut mendukung gerakan tanpa televisi ini, HARI TANPA TV, artinya: sehari tidak menonton TV. Bukan anti TV , tapi merupakan wujud nyata sikap kritis kita terhadap tayangan TV yang tidak bermutu, membodohi, dan tayangan yang tidak aman dan tidak sehat untuk anak. Fokusnya pada perlindungan anak dan kepentingan terbaik anak. Ini merupakan suatu gerakan awal untuk untuk tidak menonton TV selama sehari agar mereka dapat merasakan bahwa hidup bisa lebih bernilai ketika banyak kegiatan lain dapat dilakukan ketimbang menonton TV. Pengalaman seperti ini penting dimiliki anggota keluarga untuk meyakinkan bahwa hidup tetap menyenangkan tanpa harus tergantung pada TV.
Rasa-rasanya, apa yang diungkap pakar komunikasi tersebut ada benarnya. Di masa sekarang ini hampir tidak ada anak-anak yang tidak gandrung bahkan kecanduan terhadap tayangan yang ada di televisi kita. Tayangan itu mulai dari sinetron hingga berbagai jenis iklan yang sebenarnya kurang pas untuk dilihat bahkan produknya dikonsumsi oleh anak.
Memeringati Hari Tanpa TV (HTT) pada tanggal 26 Juli 2009 lalu, rasanya ada yang tidak patut dibanggakan bagi generasi muda kita saat ini, yaitu karena anak-anak kita telah menjadi pecandu TV yang tingkatannya bisa dikategorikan high stadium.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa kemajuan dan perubahan banyak terjadi sejak TV ditemukan.
Kita dapat menyaksikan berbagai jenis film, dari film kartun, drama, biografi, aksi, edukasi, musik, liputan berita tentang berbagai peristiwa dari seluruh dunia dan lain sebagainya, dari dalam dan luar negeri. Jadi, jika memang begitu banyak kemajuan yang diberikan dengan adanya TV, lalu apa masalahnya ? Problemnya adalah berapa lama anak-anak kita menonton TV, dan apa pengaruhnya bagi mereka ?
Efek baik dari televisi bagi anak antara lain dapat menambah kosakata (vocabulary) terutama kata-kata yang tidak terlalu sering digunakan sehari-hari. Anak juga dapat belajar tentang berbagai hal melalui program edukasi dari siaran televisi, walaupun persentasi acara televisi yang bersifat pendidikan masih sangat sedikit. Selain itu anak akan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan peristiwa yang terjadi di dunia, dan perkembangan permasalahan yang ada di luar lingkungannya.
Film pun ada juga yang bagus dan mendidik, yang selain memberi hiburan juga mengajarkan anak berbagai hal yang baik, tentang sikap-sikap yang baik, tentang nilai-nilai kemanusiaan, tentang nilai keagamaan, tentang perilaku sehari-hari yang seharusnya kita lakukan, dan lain sebagainya.
Adapun efek negatif yang ditimbulkan dari banyaknya menonton TV antara lain, pertama, adalah ketidakmampuan seorang anak untuk membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan apa yang sebenarnya, mereka dapat menganggap kekerasan yang terjadi di televisi boleh saja dilakakukan di dunia nyata. Terkadang, sinetron membuat anak menjadi berperilaku cepat dewasa untuk ukuran usianya. Pengaruh kedua, adalah anak menjadi pasif dan tidak kreatif.
Dengan hanya duduk di depan TV, mengakibatkan mereka kurang beraktivitas. Baik secara fisik maupun mental, anak menjadi pasif, karena mereka tidak tidak perlu berbuat apa-apa. Hanya duduk, mendengar dan melihat apa yang ada di TV. Kemampuan berpikir dan kreatifitas anak tidak terasah, karena ia tidak perlu lagi membayangkan sesuatu seperti halnya bila ia membaca buku atau mendengar musik.
Efek ketiga, waktu belajar akan terpotong oleh jam-jam tertentu di mana acara TV sedang diputar. Kelanjutan dari berkurangnya waktu belajar ini tentunya akan mempengaruhi prestasi di sekolah. Anak yang belajarnya kurang, tentu nilai-nilainya di sekolah akan kurang baik dibanding teman-temannya yang lebih rajin. Efek selanjutnya, stimulasi berupa interaksi sesama anak dan orang dewasa di sekitarnya menjadi minimal, dan dapat berakibat anak jadi "kuper" (kurang pergaulan).
Bahkan ada sebagian orangtua yang menjadikan TV sebagai "Electronic babysitter" dengan dalih untuk melindungi mereka dari “kejahatan” dunia luar. Mereka menganggap dengan duduk di depan televisi keamanan anak akan lebih terjaga dan lebih mudah diawasi. Pada akhirnya si anak menjadi berkurang waktunya untuk bersama orang tuanya, dan tentunya mengurangi kedekatan antara si anak dan orang tua.
Untuk melindungi anak-anak kita dari pengaruh negatif televisi itulah, maka kita patut mendukung gerakan tanpa televisi ini, HARI TANPA TV, artinya: sehari tidak menonton TV. Bukan anti TV , tapi merupakan wujud nyata sikap kritis kita terhadap tayangan TV yang tidak bermutu, membodohi, dan tayangan yang tidak aman dan tidak sehat untuk anak. Fokusnya pada perlindungan anak dan kepentingan terbaik anak. Ini merupakan suatu gerakan awal untuk untuk tidak menonton TV selama sehari agar mereka dapat merasakan bahwa hidup bisa lebih bernilai ketika banyak kegiatan lain dapat dilakukan ketimbang menonton TV. Pengalaman seperti ini penting dimiliki anggota keluarga untuk meyakinkan bahwa hidup tetap menyenangkan tanpa harus tergantung pada TV.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar